mengerjakan yang disuka

only person not with some title

pernikahan

kemarin sempat ikuti, ritual orang jawa, yang mau pengantin atau menuju kepelaminan, dimulai dari menghitung hari, cari yang tepat, sampai hari yang terlarang mendirikan terob, sepengalaman kemarin hari kamis pahing, tidak boleh mendirikan terob.
kemudian sebelum hari H ,akad nikah, pengantin diusahkan untuk ziarah ketempat nenek moyangnya yang sudah meninggal dunia, dan berdoa, tapi tidak minta restu, cuman berdoa saja, mungkin ritual ini kalau dulu kita bayangkan seperti pemujaan, dan datangnya agama baru, kemudian bergeser dikit demi dikit.Orang jawa emang perlu untuk memberitahu nenk moyang nya akan hal yang skral yang akan dikerjakan.
kemudian selanjutnya aku bercerita tentang mengundang orang kampung, untuk berdoa, begini :
tuan rumah memanggil beberapa tetangga dekat sekitar lima orang, sebagai sinoman, dan sebelum mereka berangkat mengundang, sinoman ini terlebih dahulu diberi makan di tempat tuan rumah, setelah itu baru ada pembagian jatah kerja , wilayah per Rt untuk diundang, hebat benar orang jawa, sebelum bekerja dikasih makan dulu, atau dibayar dulu, jadi sinoman biar gak ngambek.heheheh
selanjutnya setelah orang-orang pada berdatangan, sebelum berdoa disuguhkan dulu makan rokok, dan minuman, ada yang menarik ketika saya mau mengangkat tumpeng dan embel-embelnya, ketika saya mau mengangkat embel-embel tumpeng terlebih dahulu, para orang tua, melarang saya, karena hal demikian tidak boleh, aku sendiri tidak tahu, kenapa tidak boleh, harusnya menurut mereka, harus tumpeng terlebih dahulu yang diangkat, kemudian baru embel-embelnya.
sebuah simbol hal kebesaran, disini menurut saya, maaf saya bukan seorang budayawan, tapi sedikit pandangan saja, kalau orang jawa emang suka dengan simbol dan kebesaran, dengan atau tidak perhitungan.hehehe..jadi yang besar dan megah dulu di dahulukan selanjutnya kecil atau jelek pun tak masalah .
to be continue…

August 28, 2007 Posted by cetak | public | | No Comments Yet

semakin kompleks

setiap orang di dunia ini pasti berharap akan kesenangan, dan kesenangan juga tidak gampang didapat, banyak beragam jenisnya untuk jalan kesana, diantara satunya bisa jadi pengusaha, pegawai, buruh dan juga tani.
serta ada opini lain, kalau pendidikan bakal meningkatkan jenis pekerjaan kita di mata masyarakat kita.Benar atau tidaknya aku juga kurang mengerti, setidaknya aku amati, banyak sekali pengangguran di negeri ini, sarjana yang tidak tahu jalan kedepan harus bagaimana?.sudah lulus dan bangga dari jeratan birokrasi kampus yang bertele, lalu keluar berhadapan dengan hukum yang tidak pasti dan tentu sangat rancu lagi.
disini kita , aku kamu dan mereka, sama-sama belajar tentang hidup, berjalan meskipun hasil yang kita daptkan (ekonomi) sama dengan biaya yang kita keluarjan untuk berjalan.(biaya produksi) rakyat miskin kota hanya terbatas pada ekonomi untuk kebutuhan pokok, seperti makan, dan rokok saja, kesejahteraan badan, atau kelembutan kulit dan wajah adalah nomor sekian.heheheeh :D (jangan tersindir ya broo..)
selanjutnya aku bercerita tentang kehidupan anak kampus, yang berusaha mendapatkan jalan hidup, dengan tempuh segala cara tapi masih dalam aturan, meskipun yang didapatkan adlah tak lebih dari seorang yang membaca koran atau situs internet dua jam perhari.berbicara tentang kesejahteraan seorang buruh warnet, yang kesehariannya cuman menghitung uang, melayani user, terkadang juga mendengarkan amarah bos, kalau lagi hatinya pingin mengumpat, umpatan dari kekesalan suaminya atau dari pelanggannya yang lain.Sebagai buruh warnet tetap saja kita terima, mau mengadu juga kemana, gak ada badan hukum yang mau menerima dengan tangan kosong, dan mulut berbui saja, tak mungkin tak ada embel-embel (mel-melan).Disamping itu juga mau cari kerjaan lain juga amat susah yang part time, keuntungan yang kami dapatkan hanyalah sebatas koneksi informasi dunia maya yang tak terbatas, mudah-mudahan ini menjadi hak kami yang tidak dihilangkan di kemudian hari.Karena dengar-dengar isu kemarin kalau operator warnet tidak boleh lagi browsing, alamaa..mau dikemanakan nasib kami yang mau sedikit belajar saja, dan dengan imbalan tenga kami, serta kuping kami ketika bos marah-marah, disamping meneruskan kuliah, yang tak mutu, dengan sistem pendidikan yang tak pernah diupdate.
mau mengandalakan kehebatan jalur maya di kampus kami, adalah seperti merindukan bulan di siang hari, dan hal yang tak pernah mungkin, kita dapatkan.Padahal biaya adalah sepenuhnya dari kami, dari SPP kami yang setiap semester kampus selalu menagih kami, dan kenapa fasilitas hanya seminim dan limit bahkan dibilang tak pantas atau tak layak, pada siapa lagi kami mengadu, haruskah semuanya pada Tuhan.Dan bukankah Tuhan tlah memilih manusia satu untuk jadi hakim didunia ini?..lalu kemana hakim-hakim itu ketika kami mendapatkan masalah yang menimpa kami?..
belum-belum masalah dapat koneksi, membayar saja harus lewat calo, dan calo-2 sering bertingkah ulah, seperti seenaknya sendiri.aneh bin ajaib, jalur data yang dibeli dari luar sampai sini bisa naik 13 kali lipat jika dibandingkan dengan harga aslinya, hal seperti inilah yang membuat kita jadi bodoh dan terbodohi,hanya berdoa saja yang kita bisa, mengadu juga kita bersiap melawan laras panjang.
memang benar kalau kemakmuran hanya untuk anjing situan polan, dan kemakmuran hanya ada dalam dongeng bagi rakyat kecil seperti kami, meskipun konsep kemakmuran telah ada sejak revolusi agustus ‘45, dan sampai saat ini hanya ada dalam literatur kertas, yang diperdebatkan, dan hanya sampai pada mulut-mulut pendepat saja, tanpa bisa sampai pada kami.
mulut-mulut yang berbau janji dan harapan-harapan yang selalu hilang ketika perut mereka kenyang dan naik merci..mulut-mulut yang berbau amis, oleh keringat rakyat kecil, mulut-mulut yang tak pantas lagi untuk kami hadapi.
belum selesai masalah Hutan yang habis, tambang yag dicuri, dengan persetujuan yang kami tak tahu.masalah pembebasan lahan, rumah kolong jembatan, kelaparan serta buta huruf dan buta informasi.
mungkin dulu kita masih buta huruf, dan sekarang kita jua buta informasi..alamaak…semakin kompleks saja permasalahan ini.

August 13, 2007 Posted by cetak | public | | No Comments Yet

bagian emang beda-beda

bagian tiap orang memang bikin beda-beda, ada yang terlahir serba kecukupan, ada yang terlahir jauh dari kekurangan (ekonomi)..tapi ada juga kesamaan diantaranya, semangat untuk maju dan semangat untuk hidup lebih baik, benar bukan ?..

sekarang mungkin bagian kita ada di roda bawah, dan tidak memerintah serta memikul tangung jawab yang besar, sekarang bagian kita untuk maju dan semangat untuk kepentingan bersama, lalu pertanyaannya bagaimana kita memulai, dan bagaimana sudah siapkah lingkungan masyarakat kita, pemerintah kita, apa mereka mendukung atau seblaiknya melarang kita untuk maju, sebab kalau tercipta masyarakat yang cerdas, lalu dimana peran keong yang bergerak lamban seperti meraka-mereka?

Dan dimana lagi lahan basah bagi tikus-tikus ketika sampah sudah kita tertibkan, dan haruskah tikus itu musnah?.

August 10, 2007 Posted by cetak | public | | No Comments Yet

tukang parkir vs operator

kemarin saya diskusi dengan tukang parkir, dan bercerita tentang gaji/upah yang diterima..juga datang teman saya dari australia dan bekerja TI di sana.dan sambung menyambung jadi satu ..intinya tetap sama dan berakhir dengan ejekan tukan gparkir warnet, kalau gaji nya lebih besar dari operator warnet..
saya tidak memihak tukang parkir atau gaji yang lebih besar, melainkan nasib pekerja di indonesia, yang selalu tidak beraturan, dan pada akhirnya membuat si pemodal tetap kaya, dengan menginjak injak, memerintah segalanya terkadang dari luar kerja kita..
sekedar sharing saja, kalau standart gaji untuk IT kita tidak ada kejelasan, boleh diluar sana ada standart perjamnya berapa, dan hubunganya bagaimana bangsa kita belajar menghormati ilmu atau pendidikan itu sendiri, dan juga semakin banyak orang frustasi karena emang berakhir dengan kekecewaan..
menurut pendapat mas-mas..tentang gaji IT (semisal operator warnet) atau yang lainnya dengan tukang parkir, atau buruh pabrik kenapa mesti sama atau emang kenapa mesti dengan standart pendapatan daerah, yang selama ini pemerintah juga jarang mengumumkan berapa pendapatan daerah kita..
haruskah kita meniru seperti di luar negeri dengan standart perjam ?
dan haruskah gaji melihat bidangnya ?

August 8, 2007 Posted by cetak | public | | No Comments Yet

tenaga kerja

sekarang agak susah juga mau ngenet di kantor, karena bos kecil juga selalu awas-awasi kita yang lagi ngenet, may be kita juga dikasih harga perjam nya, tenaga kita dibayar murah..meriah dan tidak ada aturan khusus untuk pembayaran tenga IT di negara kita.Obrolan yang asik dimalam hari, bersama teman saya tukang parkir, yang mengeluh tentang hidupnya, tidak jauh dari lahan parkir warnet, sepeda ontel, dan muka kusut selalu menghias di wajahnya.Enggan untuk berias wajah, karena emang seperti ini kenyataannya.
Obrolan tentang tenaga kita yang dibayar murah, karena emang dari pemerintah sendiri belum ada aturan/ perda untuk tenaga kerja parkir, tenaga kerja buruh, dan tenaga kerja IT (aturan spesifik).Menyebabkan pihak yang pemodal, dengan seenaknya menetukan harga tenaga lebih murah dan mempermainkan dengan seenaknya, disisi lain lapangan kerja yang sangat sedikit, dan kita sebagai buruh hanya bisa berebut sesama teman kita untuk mendapatkan lahan pekerjaan, karena emang hidup terus berjalan, dengan atau tanpa uang.
temanku yang pernah bekerja di australia, dia begitu dengna PD nya dihargai dengan gaji yang terhitung perjam nya, dan dia hanya tertawa kecil ketika orang sperti saya dan yang lainnya hanya sebatas per shif, alias gaji saya operator IT tidak lebih dari tukang parkir sama, kita bekerja berbeda-beda dan tenaga kita juga beda, dan hal yang sama kita dapatkan, menurutmu apa emang seperti ini keadilan yang ada di indonesia?.
hal yang lain lagi, menimbulkan tidak dihargainya pendidikan kita di di mata orang lain, pendek kata, ketika ada orang yang bilang, untuk apa kita belajar IT dan bekerja disana toch harga tenaga kita sama dengan tukang parkir, dan mungkin lebih besar lagi..?:D
efek javanisme juga ada timbul dari sini, dan menyebabkan masalah yang sangat komplek, untuk mencoba mengatasi yang sudah menbudaya. Hal yang aku sesalkan di Indonesia, khusunya di tempat saya bekerja, kenapa fasilitas ngent gratis tidak saja diberikan pada kryawan, untuk dana kesejahteraan?..kasihan benar, antar tuan dan karyawan tidaka dan pengertian…dan nasib kita semakin tidak jelas, disebabkan malasnya  orang diatas sana memikirkan nasib kita.Karena pada nasib rakyat bawah (buruh), jauh ditinggalkan oleh priyayi diatas sana, tidak menghasilkan uang buat dia.
belum lagi masalah tenga kerja di Luar negeri, yang setiap person membayar pajak pada negara, dan terhitung sangat banyak sekali rakyat kita yang diluar negeri membayar pajak pada pemerintah, dan mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari majikannya disana, dan ketika mengadu kepada pemerintah kita, aduan itu tidak sampai beritanya dan menghilang begitu saja. Yang sampai di negeri kita adalah berita kesedihan, berdoa, dan guruku bilang berdoa adalah pengemis, tanpa usaha berdoa hanya menghibur hati yang sedang luka, tuk sementara.
kalau aku diijinkan akan aku buat sebuah koran yang khusus untuk memberitakan, serta menerima pengaduan tentang pekerja kita yang diluar negeri, dan setiap negara ada perwakilan untuk pengaduan.menurutmu konsepnya seperti apa yang tepat..?:D
sebuah mimpi kali ya ..
semoga saja mimpi ini jadi kenyataan, dan semoga berdoa tidak dianggap pengemis lagi.

August 8, 2007 Posted by cetak | public | | No Comments Yet